Halaman

Minggu, 11 Mei 2014

Abstract Penelitian Rotating Biological Contactors (RBCs)


THE EFFECT VARIATION OF DETENTION TIME IN ROTATING BIOLOGICAL CONTACTORS (RBCs) PROCESSING UNIT WITH PVC MEDIA TO DECREASE CONCENTRATION OF PHOSPHATE IN LAUNDRY WASTEWATER

Laundry wastewater contains high concentration of phosphate but people discharge directly to river without processing it before. Some Communal Waste Water Treatment Plant (WWTP) do not receive laundry wastewater. The results of laboratory test showed that concentration of phosphate in laundry wastewater was 20,48 mg/l. Thus, it can cause environmental pollution, such as eutrophication. The research goal  is to know the effect variation of detention time 24, 48, and 72 hours in Rotating Biological Contactors (RBCs) processing unit with PVC media to decrease concentration of phosphate in laundry wastewater. This research type is experiment with pre test-post test design.The object of this research is laundry wastewater Eng in Tembalang, Semarang. The technical laboratory test of sample is using Vanadatmolybdate method and the data analysis use One Way Anova test then it is continued with Post Hoc Test. The result shows that average of phosphate concentration before processing is 18,73 mg/l, where is after processing within 24 hours is 7,25 mg/l, within 48 hours is 7,07 mg/l, and within 72 hours is 3,61 mg/l. Decreasing phosphate concentration of laundry wastewater within 24 hours is 61,12%, within 48 hours is 62,07, and within 72 hours is 80,51%. Statistical result by One Way Anova showed that there is average difference from decreasing phosphate concentration in laundry wastewater (p-value=0,002). It is suggested to use 72 hours detention time to decrease concentration of phosphate as the decreasing effect is highest than others, althought hasn’t fulfill the regulation.





Terasi nikmat dari pewarna tekstil


Inilah hasil jalan-jalanku ke pesisir Semarang tanggal 17 April 2014

Bagaimana menurut anda terasi yang asli? Di koran dan televisi sering diberitakan bahwa terasi yang tidak asli berwarna merah merona karena menggunakan pewarna tekstil, sedangkan yang berwarna coklat adalah terasi asli karena warna dari bahan bakunya. Ternyata ini tidak berlaku pada penemuan saya di produsen rumahan terasi di pesisir pantai Kota Semarang.

Bagaimana terasi yang saya temukan?

Dari segi warna coklat kemerahan seperti warna terasi asli. Tetapi setelah saya telusuri, warna dari bahan baku yaang digunakan setelah digiling adalah hijau kecoklatan. Kemudian bahan tersebut mengalami pencampuran lagi dengan menggunakan air sebelum proses pencetakan. Pada tahap ini sangat memprihatinkan sekali karena produsen menambahkan pewarna tekstil dalam pencampuran bahan tersebut dengan air, sehingga warna dari hijau kecoklatan berubah seketika menjadi merah kecoklatan. Setelah proses ini selesai dilanjutkan dengan pencetakan dan penjemuran. Saat penjemuran terasi dijemur terbuka diatas papan yang diletakkan langsung di tanah. Dengan demikian tidak memungkiri adanya debu ataupun lainnya yang dapat menempel ke terasi yang dijemur ini. Mengingat pula kondisi sanitasi lingkungan di daerah rob tersebut relatif kurang baik. Namun tetap saja terasi masih laris dipasaran.

Bagaimana dengan usaha kecil rumahan seperti ini? Apakah usaha ini sudah memiliki ijin? Bagaimana pengawasan dari petugas Puskesmas wilayah tersebut?

Inilah yang terjadi sekarang, regulasi yang tidak diikuti dengan pengawasan dan sanksi yang tegas.

Warna terasi sebelum pewarnaan

Proses pewarnaan menggunakan pewarna tekstil


Setelah proses pewarnaan dan pencampuran dengan air
Terasi hasil pewarnaan


Menuju proses pencetakan

Terasi dijemur di halaman rumah


Rabu, 07 Mei 2014

Sepenggal kisah perjalananku menuju gelar sarjana


Sedikit sharing tentang perjalananku 2 tahun terakhir ini, sebuah tantangan kehidupan. Bukan untuk sombong tapi untuk saling memotivasi agar selalu berusaha, doa, tawakkal, bersyukur dan berprasangka baik serta yakin Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Agustus 2012 aku telah menyelesaikan studi Diploma 3 di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Kesehatan Lingkungan. Dan bulan September 2012 aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang S1 di Universitas Diponegoro Fakultas Kesehatan Masyarakat. Menjadi mahasiswa alih jalur tak mengurungkan niatku untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di kampus ungu ini. Saat itu pula aku mengikuti forum dan komunitas lingkungan dikampus ini tanpa melupakan tugas utaku sebagai mahasiswa. Targetku waktu itu sangatlah simple yaitu mengikuti organisassi kampus, lulus di tengah tahun 2013 dan IPK cumlaude.

Setahun belajar di kampus ini aku mulai mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang awalnya belum kudapatkan di kampusku sebelumnya. Kuliah Diploma 3 yang fokus ke pendidikan vokasi bealih ke pendidikan yang mengutamakan manajemen di Fakultas Kesehatan Masyarakat ini. Akupun mulai nyaman dan semakin menikmati proses ini. Walau kadang berfikir dan iri melihat rekan seangkatan waktu SMA yang bisa menyelesaikan pendidikan S1 cukup dalam waktu 4 tahun. Namun dengan niat ikhlas menuntut ilmu akupun terus menjalaninya.

Memasuki semester 3 di kampus ungu ini, aku mulai fokus ke skripsi. Saat itu mata kuliah di kelas tinggal satu yaitu Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang hanya dilakukan kegiatan kelas selama 1 bulan. Mata kuliah lain adalah Magang selama 1 bulan, Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) atau dalam kata mudahnya KKN Fakultas selama 1 bulan, dan KKN Universitas selama 35 hari. Setelah magang dan mata kuliah Penulisan KTI selesai aku mencoba fokus ke proposal skripsi, bulan September 2013 aku berusaha konsisten dengan judul skripsiku dan berusaha bimbingan ke dosen pembimbing skripsi. Pada bulan Oktober 2013 pula ketika aku mulai menyusun proposal skripsi, pengumuman pendaftaran CPNS di pusat maupun daerah banyak beredar dengan formasi D3 kesehatan Lingkungan. Akupun mulai tergoda dan ingin merasakan euforia seleksi CPNS pada saat itu. Dengan penuh kebimbangan antara skripsi atau CPNS, akhirnya akupun membagi waktu sebisa mungkin melaksanakan semuanya. Sambil melengkapi berkas pendaftaran seleksi CPNS ke tanah kelahiran Banyuwangi dan ke kampusku D3 Yogyakarta.

Oktober 2013 hari-hariku fokus pada tes CPNS dan proposal skripsi, dalam satu hari aku selalu meluangkan waktu 3 jam untuk penyusunan proposal skripsi dan 3 jam untuk seleksi CPNS. Dan oktober itu pula 2 tes seleksi CPNS aku ikuti yaitu Kemenkes formasi sanitarian KKP Yogyakarta dan BNN Kota Yogyakn praktarta formasi surveyor. Ahirnya oktober pun berlalu dengan segala kesibukanku.

Awal November 2013 sampai awal Desember 2013 PBL dilaksanakan di Kabupaten Demak, kegiatan pengabdian masyarakat inipun mengalihkan fokusku ke skripsi sehingga saat itu skripsi mulai kusingkirkan. Setelah selesai PBL di Demak, dengan segala niat maksimal mengerjakan skripsi saat itu pula pengumuman hasil TKD CPNS BNN keluar. Akupun lolos 3 besar untuk formasi surveyor BNN Kota Yogyakarta dan saat itu masih berada pada urutan pertama. Berusaha membagi waktuku antara ingin segera seminar proposal dan ingin tetap mengikuti tahapan selanjutnya seleksi CPNS BNN ini. Dengan susah payah sambil bimbingan ke dosen pembimbing skripsi akupun membagi waktu untuk menyiapkan berkas tes kesehatan dan tes wawancara seleksi CPNS BNN ini. Alhamdulillah sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes kesehatan dan wawancara, proposalku sudah di ACC oleh dosen pembimbing dan diperkenankan untuk seminar proposal. Saat itu pula sebelum berangkat ke Jakarta aku melengkapi syarat untuk seminar proposal skripsi.

18-20 Desember 2013 tes wawancara dan kesehatan di Persada Sport Club Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur dilaksanakan, dengan percaya diri dan yakin aku menjalani tahapan ini. Berdoa dan tawakkal yang aku lakukan, kalau memang ini jalanku Allah pasti mempermudan dan kalau memang ini bukan jalanku pasti Allah telah menyiapkan yang lebih baik.

22 Desember 2013 aku kembali ke Semarang dan mulai fokus mempersiapkan seminar proposal. Dan akhirnya 24 Desember 2013 seminar proposalku dengan judul “Pengaruh Variasi Waktu Tinggal Pengolahan Rotating Biological Contactors (RBCs) Media PVC terhadap Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Laundry” dilaksanakan dengan lancar. Terimakasih Bp Nurjazuli dan Bp Tri Joko yang telah membimbingku. Sore harinya tanggal itupula aku diberi kabar oleh rekanku yang sama-sama berjuang dalam tes CPNS seminggu yang lalu bahwa aku lolos diterima menjadi CPNS di BNN Kota Yogyakarta. Alhamdulillah syukurku tak terhingga untuk hari ini 24 Desember 2013, kerja kerasku selama ini terbayarkan sudah inilah hasi dari susah payah bagi waktu.

9-12 Januari 2014 akupun ke Jakarta lagi untuk melakukan pemberkasan di Kantor BNN pusat. Dan tanggal 14 Januari 2014 pelepasan KKN Universitas Diponegoro, aku mendapatkan tempat KKN Di Kabupaten Pekalongan. Selama 35 hari aku melaksanakan pengabdian masyarakat disana dan lagi-lagi penelitian skripsi terbengkalai. Walaupun saat itu aku sudah memulai merancang alat penelitianku namun aku tidak bisa fokus menyelesaikannnya. Setelah KKN pun akhir Februari aku mulai melanjutkan pembuatan alat penelitianku. Desain alat yang lumayan susah membuatku harus kerja jeras lagi untuk menyelesaikannya. Dengan modal nekat kesana kemari meninta tolong kepada banyak pihak akhirnya alatkupun jadi dengann hasil memuaskan. Penelitian dilaksanakan bulan Maret 2014. Setelah penelitian usai akupun mengerjakan hasil dan pembahasan skripsi hingga bulan April 2014. Waktu itu pikiranku cemas karena dihantui SK CPNS yang diperkirakan akan turun sekitar bulan Maret-April, sementara skripsiku belum selesai. Dengan penuh beban akupun menyelesaikannya hingga 22 April 2014 Seminar Hasil penelitianku pun dilaksanakan. Alhamdulillah tak pernah lupa kuucapkan atas kemudahan yang telah Allah berikan padaku.

Berjarak 2 minggu setelah seminar hasil akhirnya 5 Mei 2014 aku melaksanakan ujian skripsi dengan 3 dosen penguji. Ujian dilaksanakan dari jam 8.15-9.15 WIB, waktu yang cukup singkat aku mempertahankan hasil penelitianku di depan dewan penguji. Alhamdulillah aku dinyataan lulus dengan nilai A dan IPK diatas 3,5. Targetku tercapai sudah dengan nilai cumlaude untuk kedua kalinya. Hari itu pula semua bebanku terasa hilang, skripsi selesai dan SK CPNS belum turun.

Inilah akhir dari perjalananku di Universitas Diponegoro. Alhamdulillah, syukur tak terhingga atas nikmat Allah SWT yang telah memberikan jalan kelancaran dan kemudahan padaku untuk menyelesaikan studi ini.

Memang rencana Allah itu jauh lebih indah dari yang kita perkirakan. Semoga aku tak pernah lupa untuk selalu bersyukur.
Tes Wawancara dan Kesehatan CPNS BNN di Jakarta 18 Desember 2013

Pemberkasan CPNS BNN di Kantor Pusat BNN Cawang Jakarta Timur 10 Januari 2014

Seminar Hasil Penelitian di FKM Undip Semarang 22 April 2014

Setelah Sidang Skripsi FKM Undip 5 Mei 2014

Diberi kejutan dan kekonyolan teman-teman FKM Undip 5 Mei 2014

Kondisi Sungai di Tembalang sebagai Akhir Pembuangan Limbah Domestik


Badan air merupakan salah satu bagian dari lingkungan yang harus dijaga, salah satu badan air adalah sungai. Dalam hal ini Indonesia telah memiliki regulasi yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Dimana air dibagi menjadi 4 golongan yaitu golongan I sebagai air minum, golongan 2 air yang harus diolah terlebih dahulu untuk digunakan sebagai air minum, golongan 3 yaitu air untuk perikanan dan peternakan, dan golongan 4 air untuk pertanian.

Sungai di Kecamatan Tembalang tepatnya di sebelah selatan Universitas Diponegoro berada pada daerah permukiman penduduk. Oleh karena itu padatnya rumah warga membuatnya tidak ada daerah aliran sungai (DAS). Pada tepi sungai banyak dibangun rumah penduduk, kos-kosan, ataupun fasilitas penunjang bagi mahasiswa yang menyebabkan bangunan menggunakan lahan yang sangat mepet dengan sungai. Sehingga DAS pun hilang dan tidak ditemukan pada daerah ini.

Hal lain yang perlu disoroti adalah pembuangan air limbah domestik atau air limbah rumah tangga. Entah alasannya apa penduduk yang mempunyai tempat tinggal disekitar sungai ini membuang air limbahnya melalui pipa tertutup menuju sungai. Padahal air limbah tersebut dapat disalurkan ke septic tank. Namun karena khawatir septictank penuk maka masyarakat membuangnya ke sungai. Sehingga banyak pipa-pipa yang menempel di tepi sungai yang menyaluran air limbahnya. Dampaknya sungai yang harusnya dilindungi dan dikelola justru dicemari dengan air limbah rumah tangga. Akhirnya sungai di Tembalang ini tercemar bahkan sangat kotor. Apabila diperiksa, kemungkinan kandungan air limbah yang tinggi adalah parameter BOD, COD, TSS, NH3, fosfat, dan lainnya.

Adanya regulasi dari pusat yang tidak didukung dengan peraturan daerah yang ketat dan tidak adanya pemantauan wilayah menyebabkan masyarakat dengan mudah untuk membuang limbah rumah tangga ke sungai. Selain itu tidak adanya sanksi hukum yang diberikan membuat masyarakat tidak akan pernah takut untuk melakukannnya. Beginilah akibat kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan. Dimulai dari diri sendiri, disalurkan kepada kerabat sekitar, untuk lingkungan yang lebih baik.

Rabu, 05 Februari 2014

Pembuatan Lubang Resapan Biopori




Saatnya menjadi bagian dari Desa Wonopringgo

warga yang ramah, penuh sopan santun, baik hati, dan saling menghormati adalah ciri khas dari warga Desa Wonopringgo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.
Apa potensi daerah ini?
1. Kerajinan batok kelapa
2. Industri rumah tangga celana jeans
Untuk masalah pendidikan di desa ini terdapat 1 PAUD, 1 TK, dan 2 SD yang mudah dijangkau dan dekat dengan permukiman penduduk.





Selasa, 04 Februari 2014

Sehat bersama mahasiswa Universitas Diponegoro


KKN Universitas Diponegoro goes to Desa Wonopringgo, kami berolahraga pagi mengelilingi Desa Wonopringgo. Bersama Kepala Desa Wonopringgo bernama Bapak Slamet Hariyanto kami ditemani untuk mengelilingi seluruh Desa Wonopringgo dan batas-batas wilayahnya, selain itu kami mengunjungi beberapa potensi yang ada di desa ini. beberapa potensi tersebut adalah kerajinan tangan dari batok kelapa dan produksi rumah tangga celana jeans.
Kota yang terkenal dengan produksi batiknya ini memiliki masyarakat dengan krestifitas tinggi. selain itu masyarakat yang ramah membuat tamu dari luar kota nyaman untuk tinggal di Pekalongan. Nuansa islami di kota ini pun sangat kental sekali dibuktikan selalu ada perkumpulan pengajian baik bapak-bapak maupun ibu-ibu di setiap harinya. wajar kalau kota ini menjadi kota yang kreatif dan islami.


Minggu, 02 Februari 2014

Inspeksi Sanitasi Sarana Penyediaan Air Bersih (PAB)


Mengacu pada form inspeksi sanitasi sarana penyediaan air bersih dari Kantor Kesehatan Pelabuhan maka yang dilakukan diagnosa khusus adalah sarana penyediaan air bersih tentang risiko pencemaran. Agar resiko pencemaran dinilai rendah maka perlu hasil penilaian tersebut harus memiliki diagnosa yang baik. Diantara diagnosa tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Apakah reservoir retak sehingga memungkinkan air/ rembesan masuk ke dalam bangunan?
  2. Apakah bagian atas reservoir kotor, banyak debu, dan berlumut?
  3. Apakah lobang pengisi air/ mainhole tidak tertutup rapat/ terkunci sehingga mudah terbuka?
  4. Apakah ada genangan limbah cair tumpukan sampah, pestisida dan jenis sampah lainnya di sekitar reservoir?
  5. Apakah dalam reservoir terdapat endapan berupa lumpur dan karat?
  6. Apakah air reservoir juga digunakan oleh masyarakat dengan cara diciduk langsung dari lubang reservoir?
  7. Apakah di sekitar lokasi reservoir terdapat binatang (ternak dan binatang pengganggu lainnya)?
  8. Apakah ada kebocoran pada pipa yang menghubungkan antara reservoir-mesin pompa-hydrant?

Diagnosa diatas yaitu eservoir tidak boleh retak karena berisiko memungkinkan terjadinya rembesan air masuk ke dalam bangunan penyediaan air bersih sehingga menyebabkan pencemaran. Bagian atas reservoir tidak boleh kotor, tidak banyak debu, dan tidak berlumut dikarenakan dapat masuk ke penampungan air bersih yang menyebabkan menurunnya kualitas air bersih yang ditampung. Selain itu lobang pengisi air/ mainhole harus tertutup rapat dan terkunci sehingga susah terbuka agar tidak terjadi pencemaran bahan asing dari luar yang masuk ke dalam penampungan. Tidak ada genangan limbah cair, tumpukan sampah, pestisida, dan jenis sampah lainnya di sekitar reservoir agar tidak mengganggu estetika dan tidak teradi rembesan ke penampungan yang dapat mengakibatkan pencemaran dan menurunnya kualitas air bersih. Reservoir juga tidak boleh terdapat endapan berupa lumpur dan karat karena dapat menurunkan kualitas air bersih yang ditampung. Selain itu reservoir tidak boleh digunakan oleh masyarakat dengan cara diciduk langsung dari lubang reservoir karena kemungkinan dijamah langsung dapat menimbulkan turunnya kualitas air bersih, misalnya air bersih menjadi kotor/ keruh. Di sekitar lokasi reservoir juga tidak diperbolehkan ada binatang seperti ternak dan binatang pengganggu lainnya karena keungkinan tinja kotoran binatang tersebut dapat mencemari air bersih. Diagnosa yang terakhir yaitu tidak ada kebocoran pada pipa yang menghubungkan reservoir dengan mesin pipa dan hydran. 
Cara penilainnya adalah jika jawaban ya sebanyak 5-8 maka skor risiko pencemaran tinggi dan jika jawaban ya 0-4 maka skor risiko pencemaran rendah. 
 

Selasa, 28 Januari 2014

Permainan berbasis kearifan lokal dengan kartu sehat sebagai media sosialisasi PHBS


Sabtu, 23 Januari 2014 kami mahasiswa KKN Tim 1 Undip yang ditempatkan di Desa Wonopringgo Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan mengadakan kegiatan sosialisasi kesehatan masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak kelas 2 dan kelas 3 di SD Negeri 2 Wonopringgo.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan praktek anak dalam melaksanakan PHBS yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah.
 
Mengapa memilih sasaran anak kelas 2 dan 3?
Anak usia dini merupakan sasaran media pendidikan karena usia dini lebih cepat menerima informasi dan mempraktekkannya dibandingkan dengan usia yang sudah lanjut dewasa, karena pada usia dini anak masih dapat untuk diatur dan diarahkan baik perilaku maupun yang lainnya. oleh karena itu pada usia dini sebaiknya anak diarahkan pada segala sesuatu yang bersifat positif hingga terbentuk kepribadian yang positif dewasa nanti.
Mengapa menggunakan permainan berbasis kearifan lokal?
anak terbentuk dari lingkungan yang kecil yaitu keluarga, segalasesuatu mudah diajarkan dari lingkungan terkecil tersebut. Adat istiadat yang ada dalam keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap proses penerimaan informasi pada anak. anak bisa diibaratkan sebagai plastisin yang masih mudah diatur dan diarahkan. namun anak telah menerima unsur kebudayaan sekitar sehingga di sekolah lebih mudah lagi untuk menerima informasi apabila cara penyampaiannnya sesuai dengan kebudayaan di lingkungan keluarganya. sehingga permainan anak berbasis kearifan lokal ini diharapkan dapat mempermudah untuk penerimaan informasi, selain menyesuaikan kebudayaan sebelumnya namun cara ini agar anak lebih asik dalam menerima informasi.

Senin, 02 Desember 2013

Tahukah Kamu Bagaimana Sanitasi di Warung Tenda?




Beberapa warung tenda yang pernah saya kunjungi hampir semua sama pada masalah sanitasinya. Yang menjadi sorotan utama yaitu kebersihan alat makan. Alat makan tersebut diantaranya piring, sendok, garpu, mangkok, dan gelas. Alat- alat itu dipakai lebih dari sekali dalam sehari dan dipakai oleh beberapa orang bergantian.  

Bagaimana cara pencucian alat makan tersebut?
Air bersih yang akan digunakan mencuci di warung tenda adalah air yang berasal dari PAM atau sumur yang diangkut ke warung tersebut menggunakan jerigen. Air yang digunakan jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga tidak memenuhi kebutuhan. Dengan demikian dapat kita ketahui pencucian alat makan di warung tenda tidak menggunakan air mengalir dan air pencucian hanya diletakkan pada bak-bak pencucian. Kebutuhan air untuk mencuci banyak namun air yang ada jumlahnya kurang sehingga air dalam satu bak pencucian digunakan berulang-ulang untuk pencucian alat makan dalam jumlah banyak.
Dalam sanitasi makanan dan minuman, masalah pencucian alat makan merupakan hal yang harus diprioritaskan karena dalam proses pencucian ini dapat menjadi resiko penularan penyakit bahkan menimbulkan penyakit baru terutama penyakit berbasis lingkungan yang mengacu pada pencernaan. Sehingga dalam sanitasi makanan minuman hendaknya pencucian alat makan dilakukan dengan air mengalir, apabila tidak menggunakan air mengalir dapat dengan air dalam bak-bak dengan syarat jumlah bak minimal 4 yang terdiri dari : bak 1 berisi air hangat yang fungsinya untuk memisahkan lemak dan minyak pada alat makan, bak 2 air bersih untuk mencuci dengan sabun agar alat makan bersih, bak 3 adalah bak pembilasan agar sabun cuci hilang, dan bak 4 adalah air bersih yang berisi desinfektan sehingga lat makan terbebas dari kuman dan bakteri penyebab penyakit.

Apabila tidak sesuai dengan syarat sanitasi makanan minuman, apakah yang akan terjadi?
Kini makin marak penyakit menular berbasis lingkungan, contohnya adalah dari alat makan yang tidak bersih dalam pencuciannya. Penyakit yang dapat terjadi dari diare, typus, bahkan hepatitis B. Penyakit tersebut akibat adanya bakteri yang ada dalam alat makan yang kita gunakan sehingga bakteri masuk ke tubuh melalui oral.
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blogger news

Cari Blog Ini