Halaman

Kamis, 14 Februari 2013

Berkunjung ke TPA Piyungan



Luas lahan TPA Piyungan adalah 12,5 ha yang terbagi menjadi dua yaitu : untuk perkantoran seluas 2,5 ha dan untuk sistem operasional sampah termasuk didalamnya yaitu bak-bak pengolahan seluas 10 ha.

Keadaan lingkungan di sekitar TPA Piyungan
TPA ini berdiri pada tahun 1995, yang diperkirakan mampu beroperasional sekitar 10-15 tahun. Untuk setiap satu tahunnya TPA ini membutuhkan  biaya sekitar 1 M yang digunakan untuk operasional alat, pembelian alat berat, dan separepartnya.
TPA Piyungan tampak dari atas
Jumlah pegawai yang bekerja di TPA ini yaitu 34 orang yang berasal  dari daerah Sleman, Bantul, dan Yogyakarta.
Tempat Pengelolaan Leachet TPA Piyungan

All crew Kunjungan TPA Piyungan

Selasa, 05 Februari 2013

Limbah Cair Batik


Limbah cair batik adalah limbah cair yang berasal dari proses persiapan proses pembatikan, proses pembatikan, proses pelepasan lilin dan finishing yang limbah cairnya mengandung bahan kimia, seperti naptol, indigol, zat reaktif dan soda abu. Menurut Kusno Putranto limbah cair adalah cairan yang berasal dari rumah tangga, industri atau tempat-tempat umum lainnya yang biasanya mengandung bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Limbah cair adalah air yang tidak bersih dan mengandung zat yang bersifat membahayakan kehidupan manusia atau hewan yang lazimnya muncul karena aktivitas manusia termasuk industri. (Azrul Aswar, 1998)

Industri batik merupakan salah satu usaha industri yang terdapat dalam kehidupan masyarakat kita, adapun proses industri batik meliputi proses persiapan, proses pembatikan, proses pelepasan lilin dan finishing. Dari proses pembatikan tersebut dihasilkan limbah cair yang umumnya dibuang begitu saja tanpa mengalami pengolahan sehingga akan mengganggu dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan, perlu diupayakan suatu proses pengolahan limbah cair industri batik sehingga diperoleh limbah cair yang memenuhi persyaratan/baku mutu.

Industri batik yaitu proses-proses pekerjaan dari permulaan berbentuk kain mori batik sampai menjadi kain batik. Sedangkan arti batik adalah cara pembuatan bahan sandang berupa tekstil yang bercorak pewarnaan dengan menggunakan lilin sebagai penutup untuk mengamankan warna dari perembesan warna lain didalam pencelupan (murti hadi,1979)
Proses Pengecapan 





Proses Pencucian

Karakteristik limbah cair batik
Warna
Bahan-bahan yang dipergunakan dalam proses membatik banyak menggunakan bahan-bahan hasil aktivitas tumbuhan dan hewan seperti lendir maupun getah. Sehingga industri banyak mengandung kadar warna.

Suhu
Umumnya suhu air limbah lebih tinggi dari pada suhu air minum dan merupakan parameter yang sangat penting karena efeknya pada aquatic life, meningkatkan reaksi dan menambah spesies ikan dalam air (Sugiharto,1987)

pH
konsentrasi iion hidrogen adalah ukuran kuallitas dari air maupun dari air buangan, kadar pH yang baik adalah kadar dimana masih memungkinkan kehidupan biologis dalam air berjalan dengan baik, pH yang baik dalam air adalah 7

BOD
Merupakan sebagai jumlah oksigen terlarut dalam air buangan yang dipakai untuk menguraikan sejumlah senyawa organik oleh mikroorganisme pada suhu dan waktu tertentu (Sugiharto,1987)

COD
Didefinisikan sebagai sejumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme anaerobik untuk menguraikan senyawa-senyawa yang ada dalam air buangan secara kimia (Depkes,1991)

TSS
Adalah jumlah berat dalam mg/L kering lumpur yang ada dalam air limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0.45 mikron (depkes,1991). TSS adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air ,tidak larut dan tidak mengendap langsung. Padatan tersuspensi adalah padatan yang terdiri dari partikel-partikel yang ukuran serta beratnya lebih kecil daripada sedimen (Ircham,1992). Partikel yang digolongkan dalam suspended solid adalah semua partikel yang mempunyai diameter lebih besar dari 0.45 mikron. Dialam akan terjadi pula peristiwa serupa. Pada badan air suspended solid sebagian besar terdiri dari senyawa-senyawa organik, yang akan mengalami proes dekomposisi dan banyak memerlukan banyak oksigen, sehngga menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air.
Hal serupa dapat terjadi pula apabila air limbah yang masih mempunyai kandungan suspended solid dibuang ke riol kota. Oleh karena itu, besarnya suspended solid merupakan satu persyaratan air limbah sebelum dibuang kebadan air (SPPH Depkes Surabaya,1983). Air buangan industri mengandung jumlah padatan tersuspensi dalam jumlah yang sangat bervariasi tergantung dari jenis industrinya (Fardiaz Srikandi,1987)

Limbah cair batik
Berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istemewa Yogyakarta No.281/KPTS/1998 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Baku Mutu Limbah Cair untuk Industri Batik : Kadar maksimum COD = 100 mg/L ; kadar maksimum TSS = 200 mg/L

Dampak Nitrogen dan Hidrocarbon bagi Kesehatan


Nitrogen
Nitrogen oksida sering disebut dengan NOx karena oksida nitrogen mempunyai 2 bentuk yang sifatnya berbeda, yakni gas NO2 dan gas NOx. Sifat gas NO2 adalh berwarna dan berbau, sedangakn gas NO tidak berwarna dan tidak berbau. Warna gas NO2 adalah merah kecoklatan dan berbau tajam menyengat hidung.Kadar NOx diudara daearh perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih tinggi dari daerah pedesaan yang berpenduduk sedikit. Hal ini disebabkan karena berbagai macam kegiatan yang menunjang kehidupan manusia akan menambah kadar NOx di udara, seperti transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangan sampah dan lain-lain.Pencemaran gas NOx diudara teruatam berasal dari gas buangan hasil pembakaran yang keluar dari generator pembangkit listrik stasioner atau mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar gas alami. Sumber utama NOx pada atmosfer adalah dari jalan lalu lintas. Pada sangat konsentrasi tinggi, dimana mungkin hanya dialami pada kecelakaan industri yang fatal, paparan NO2 dapat mengakibatkan kerusakan paru-paru yang berat dan cepat. Pengaruh kesehatan mungkin juga terjadi pada konsentrasi ambient yang jauh lebih rendah seperti pada pengamatan selama peristiwa polusi di kota. Bukti yang didapatkan menyarankan bahwa penyebaran ambient kemungkinan akibat dari pengaruh kronik dan akut, khususnya pada sub-grup populasi orang yang terkena asma. NO2 terutama berkelakuan sebagai agen pengoksidasi yang kemungkinan merusak membran sel dan protein. Pada konsentrasi tinggi, saluran udara akan menyebabkan peradangan yang akut. Ditambah lagi, penyebaran dalam waktu-singkat berpengaruh terhadap peningkatan resiko infeksi saluran pernapasan. Meskipun banyak pengontrolan penyebaran yang dilakukan, fakta secara jelas mendefinisikan hubungan antara konsentrasi atau dosis dan umpan baliknya tidaklah cukup.

Hidrocarbon
Hidrokarbon juga merupakan pencemar utama yang diemisikan oleh kendaraan bermotor dari lalu lintas di dalam perkotaan. Di beberapa kota besar, sumber ini merupakan sumber hidrokarbon yang paling dominan, sebagai pencemar primer dan yang memberikan kontribusi terbesar dalam pencemaran oksidan fotokimia. Hidrokarbon terutama berperan dalam atmosfer dalam pembentukan ozon dan fotooksidan lainnya, bersama-sama dengan adanya oksida nitrogen dan sinar ultra violet.Gangguan pernapasan dapat timbul akibat senyawa hidrokarbon sendiri, meliputi laryngitis, pharya dan bronchitis.Dampak fotooksidan yang terbentuk, sebenarnya lebih besar dari dampak hidrokarbon sendiri.
  
Pemeriksaan udara Jalan Godean Yogyakarta
 
Pengambilan sampel udara Jalan Godean Yogyakarta

All crew

Kunjungan PKM ke Sukorejo

Melaksanakan Pendidikan Kesehatan Masyarakat di Dusun Deliksari, Sukorejo, Semarang

Tim PKM FKM Undip 2012




Sosialisasi tentang menu seimbang, door to door
Penempelan sticker

Berfoto dengan balita dusun Sukorejo

Keadaaan lingkungan dusun Sukorejo


And the last with arum

Senin, 04 Februari 2013

Temu Ilmiah Nasional Akademisi dan Praktisi K3

Sabtu, 12 Januari 2013

Hari ini aku diberi kesempatan untuk menjadi peserta sekaligus pemakalah dalam Seminar Nasional dan Temu Ilmiah Nasional akademisi dan praktisi di bidang K3 di S2 Ilmu Kesehatan Kerja, Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Tema seminar nasional ini adalah “Penguatan Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Industri Bagi Tercapainya Kualitas Produk Barang dan Jasa yang Kompetitif”.

Menjadi peserta seminar selama 6 jam, bagiku tak membosankan karena topik bahasan K3 sangatlah menarik. Dimulai pembicara dari industri pertambangan, industri makanan dan minuman, industri tekstil, rumah sakit, dan jasa transportasi. Setelah itu kesempatan berhargaku untuk mempresentasikan hasil penelitian tentang K3 yang berjudul "Faktor-faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Kecelakaan Kerja di Industri Tekstil dan Garmen Kabupaten Sleman Yogyakarta". Aku menguatkan diri untuk menahan grogi didepan para penguji terutama profesor-profesor. Dengan penuh percaya diri bermodal Amd. KL aku mempresentasikannya didepan para penguji dan pemakalah lain yang bergelar S1, S2, bahkan S3.

Sungguh pengalaman luar biasa yang mengisi coretan buku putihku. Semoga bisa bermanfaat dan terus dapat mengembangkannya.
Anita Dwi Nurjanah bersama Bapak Yamtana, SKM, M.Kes Dosen JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Jumat, 25 Januari 2013

Dibalik ibukota provinsi yang megah

Dusun Deliksari, Sukorejo, Kota Semarang.
Sebuah daerah di pinggiran kota yang jauh dari perhatian. Yang menjadi sorotan utama adalah masalah sanitasi. Wajar saja karena daerah ini kurang tersentuh.

Air bersih


Dalam satu dusun hanya ada satu sumber air sumur yang digunakan oleh semua warga Deliksari, merekapun harus mengangkut air dari sumur ke rumah masing-masing saat musim hujan. Berbeda saat musim kemarau mereka harus menunggu pasokan air dari PDA berasal dari luar daerah melalui tangki-tangki air, itupun jumlahnya terbatas harus bisa dibagi rata pada semua warga. Kualitas air sumur pun tidak diketahui karena tidak adanya pemeriksaan air secara periodik.

Sampah

Sebagian besar warga masih membuang sampah pada pekarangan kosong disebelah rumahnya. Kebiasaan tersebut didukung dengan tidak adanya petugas pengangkut sampah yang mengambil sampah dan mengangkut sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Sehingga warga terus membuang sampahnya sembarangan tanpa memperhatikan dampaknya bagi kesehatan.

Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Butuh promosi kesehatan agar masyarakat dapat mengetahui tentang kesehatan lingkungan dan dampaknya bagi kesehatan dan didukung dengan bantuan pemerintah terhadap sarana dan prasarana kebersihan.

Rabu, 23 Januari 2013

Sampah Bukan Sumber Musibah



Pemakaian barang ataupun bahan oleh manusia tidak selalu terpakai habis, walaupun terpakai habis, akhirnya bila bahan tersebut digunakan atau dimakan akan menghasilkan bahan buangan. Pada awal kehidupan manusia sampah belum menjadi suatu masalah, tetapi dengan bertambahnya penduduk dengan ruang untuk hidup tetap, maka makin hari menjadi masalah yang cukup besar. Hal ini jelas bila kita lihat modernisasi kehidupan, perkembangan teknologi sehingga meningkatkan aktivitas manusia. Sehubungan dengan kegiatan manusia, maka permasalahan sampah akan berkaitan baik dari segi sosial, ekonomi, dan budaya.
Kesehatan seseorang maupun masyarakat merupakan masalah sosial yang saling berkaitan antara komponen-komponen yang ada di dalam masyarakat. Sampah sendiri, bila diamankan tidak menjadi potensi-potensi yang berpengaruh terhadap lingkungan. Namun demikian sering kita temui bahwa sampah tidak berada pada tempat yang menjamin keamanan lingkungan. Sampah yang kurang diperhatikan tersebut dapat befungsi sebagai tempat berkembangnya serangga ataupun binatang mengerat yang dikenal sebagai vektor penyakit menular. Di samping itu sampah dapat menimbulkan pencemaran udara, air, maupun tanah yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan.
Secara umum pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan tempat berkembang dan sarang dari pada serangga dan tikus, menjadi sumber pengotoran tanah sumber-sumber air permukaan tanah/air dalam tanah maupun udara, dan menjadi sumber dan tempat hidup dari kuman- kuman yang membahayakan kesehatan.
Bertambahnya penduduk dan berubahnya pola konsumsi masyarakat menyebabkan bertambahnya volume, jenis, dan karakter sampah. Berdasarkan data statistik persampahan di Indonesia tahun 2008, sistem penanganan sampah setelah sampah dikumpulkan masyarakat dari permukiman jumlah sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah sebesar 11,6 juta ton/tahun, ditimbun 1,6 juta ton/tahun, dibuat kompos 1,2 juta ton/tahun, dibakar 0,8 juta ton/tahun, dan sampah yang dibuang ke sungai 0,6 juta ton/tahun.
Berdasarkan data statistik persampahan Indonesia tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, belum membei nilai sebagai sumberdaya yang bisa dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah.
Sistem yang dilakukan selama ini belum menyelesaikan masalah sampah, akan tetapi dapat menimbulkan masalah baru di tempat lain, karena TPA sudah tidak dapat menampung lagi sampah yang dihasilkan oleh masyarakat. Timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi TPA berpotensi melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Selain itu menyebabkan masyarakat menjadi resisten terhadap TPA karena dianggap menimbulkan polusi dan merugikan. Bau yang tak sedap dari sampah, banyaknya lalat, adanya lindi, dapat berdampak pada gangguan kesehatan masyarakat sekitar dan munculnya pencemaran tanah serta pencemaran air.
Oleh karena itu perlu adanya sistem pengelolaan sampah dengan tetap berpedoman pada 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang diterapkan melalui berbagai inovasi sehingga dapat diterapkan di masyarakat. Dengan demikian dapat meminimalisir jumlah sampah yang ada di TPA.

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blogger news

Cari Blog Ini