Perubahan jasad renik pada proses pengomposan
sampah organik yaitu :
1. Peruraian hidrat arang dan sellulosa menjadi
CO2 dan air.
2. Peruraian zat putih telur menjadi amoniak (NH4),
CO2 dan air.
3. Unsure hara (NPK) akan terlepas kembali bila
jasad renik mati.
4. Pembebasan unsur-unsur hara dari senyawa
organic menjadi senyawa anorganik.
5. Perubahan lemak dan zat lilin menjadi CO2
dan air.
Adanya penguapan zat arang ke udara,
mengakibatkan penurunan volume kompos (volume menjadi 1/3 volume awal). Agar
proses pembuatan kompos sampah organic mendapatkan hasil yang optimal, maka
terdapat beberapa factor yang harus diperhatikan
yaitu:
1. Pemotongan bahan 2,5
– 7,5 cm.
2. Penggunaan stater/ innoculant/ aktifator :
untuk mempercepat waktu pengomposan.
3. Pengadukan/
pembalikan.
4. Kelembapan antara 50%-60%, optimal 55%.
5. Suhu optimal 45 0C – 55 0C.
6. pH
7,5 – 8,5
7. C/N rasio bahan 35-50; C/N rasio kompos 10-12.
Proses pengomposan sampah organic dikatakan selesai (kompos matang),
dengan kriteria sebagai berikut :
1. Bentuk fisik menjadi hancur.
2. Warna cokelat kehitaman.
3. Tidak berbau busuk (seperti bau tanah).
4. Volume menyusut menjadi 1/3 volume awal.
5. Suhu stabil mendekati suhu ruangan.
6. C/N rasio antara 10-12.